Karya dan Aksara
Kriya
Patung Rakai Kayuwangi merupakan karya dari pembelajaran seni budaya dengan topik materi kriya. Karya ini merupakan manifestasi nyata dari keunggulan utama WIKRAMA, yaitu kemampuannya menghubungkan warisan masa lalu, aktualisasi masa kini, dan inovasi masa depan dalam satu ruang kreasi. Karya tiga dimensi ini dibuat murid dengan memanfaatkan limbah kertas yang diolah menjadi bubur kertas sebagai media utama, membuktikan bahwa pelestarian budaya dan kepedulian ekologi dapat berjalan beriringan dalam satu karya.
Warisan Masa Lalu — Fondasi Nilai Rasa
Rakai Kayuwangi adalah raja kedelapan Kerajaan Medang (Mataram Kuno) yang memerintah pada tahun 855–885 Masehi. Sejalan dengan pendekatan WIKRAMA yang memperkenalkan murid pada lingkungan budaya adiluhung, penelusuran histori tokoh ini menjadi sarana murid menyerap nilai unggah-ungguh dan tanggung jawab terhadap sejarah Nusantara, sebelum diaktualisasikan menjadi wujud fisik yang kreatif selaras dengan penjiwaan Rasa.
Aktualisasi Masa Kini — Makarya dan Pembiasaan NGAJENI
Sebagai bagian dari fitur Makarya, proses pembuatan patung ini menjadi ruang bagi murid untuk menafsirkan kembali kejayaan sejarah dengan cara yang relevan bagi generasi muda. Pemanfaatan ulang kertas bekas menjadi media seni sekaligus menjadi wujud nyata pembiasaan NGAJENI terhadap kelestarian lingkungan (ekologi) sejalan dengan semangat WIKRAMA yang mengintegrasikan konservasi alam ke dalam setiap ekspresi budaya.
Inovasi Masa Depan — Murid sebagai Pencipta
Melalui karya ini, WIKRAMA menegaskan posisinya sebagai penggerak utama yang menempatkan murid bukan sekadar penikmat warisan budaya, melainkan pelaku, pencipta, dan pengembang budaya. Patung Rakai Kayuwangi menjadi bukti konkret bahwa teknologi digital dalam ekosistem WIKRAMA berfungsi lebih dari sekadar media dokumentasi tetapi menjadi ruang aktualisasi nyata filosofi Hamemayu Hayuning Bawono, di mana nilai estetika, historis, dan ekologis bertemu dalam satu karya yang berkelanjutan.
Lukisan
MAKARYA: Ketika Sudut Sekolah Menjadi Ruang Ekspresi Budaya
Di berbagai sudut sekolah, karya seni menjadi bagian dari wajah budaya SMAN 1 Pakem. Dinding dan ruang sekolah tidak sekadar menjadi latar aktivitas sehari-hari, tetapi dihidupkan melalui lukisan yang mengangkat tokoh, simbol, nilai, dan keberagaman budaya Jawa.
Beragam karya menampilkan Pangeran Diponegoro, tokoh perempuan Jawa, hingga tokoh-tokoh wayang dengan gaya visual yang beragam. Beberapa lukisan bahkan diperkaya dengan aksara Jawa dan ungkapan filosofi Jawa, seperti “Sabda Pandita Ratu Tak Kena Wolak-Walik”. Perpaduan antara visual, aksara, dan falsafah tersebut menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga sarat makna.
Eksplorasi murid tidak berhenti pada figur tradisional. Tokoh wayang dipadukan dengan motif batik, lanskap laut, dan komposisi visual modern, menunjukkan bahwa budaya dapat terus ditafsirkan melalui kreativitas generasi masa kini. Di sisi lain, hadir pula poster bertema Sekolah Kebudayaan dengan tiga pesan utama: “Pelajari, Lestarikan, Wariskan.” Visual anak-anak dari berbagai suku yang bermain bersama memperkuat pesan bahwa kebudayaan juga tumbuh melalui sikap saling menghormati dan menghargai di tengah keberagaman.
Melalui Makarya, sekolah menghadirkan budaya bukan sekadar sebagai sesuatu yang dipelajari, tetapi sebagai sesuatu yang diciptakan, ditemui, dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap karya menjadi pengingat bahwa menjaga budaya tidak selalu harus dilakukan melalui hal-hal besar, ia dapat dimulai dari sebuah lukisan, sebaris aksara, sebuah filosofi, dan keberanian untuk terus berkarya.
Pelajari. Lestarikan. Wariskan.
Karena budaya yang hidup adalah budaya yang terus diciptakan dan dimaknai oleh generasinya.
Inovasi
Pilar Makarya: Inovasi Ecoprint, Penjiwaan Rasa Menuju Kaya Berbasis Ramah Lingkungan
Inovasi WIKRAMA SMAN 1 Pakem menghubungkan secara langsung tahap Rasa menuju Makarya Ecoprint melalui alur implementasi yang terintegrasi. Pembuatan karya ecoprint ini dilakukan oleh murid kelas XII, yang sangat antusias dan semangat dalam mengikuti pembuatan karya ecoprint. Pada tahap Rasa (penyerapan nilai Keraton & kepedulian lingkungan), murid menginternalisasi nilai adiluhung utama seperti Hamemayu Hayuning Bawana dan Mangku Bawana sebagai kewajiban moral untuk menjaga, merawat, serta memuliakan kelestarian alam, sekaligus mewujudkan Memetri Alam melalui penghormatan dan perlindungan terhadap keanekaragaman flora lokal. Kesadaran ini kemudian dilanjutkan secara langsung ke Makarya Ecoprint, di mana murid mengaplikasikannya dengan menciptakan karya ecoprint ramah lingkungan berprinsip zero waste tanpa zat warna kimia sintetis. Murid memanfaatkan dedaunan lokal yang melimpah dan tidak langka seperti daun pepaya, daun singkong, dan pakis sekaligus menerapkan konsep transformasi geometri matematika dalam merancang komposisi pola daun pada media kain.
Melalui sinergi Rasa dan Makarya ini, karya ecoprint menjadi strategi nguri-uri budaya terkini yang meredefinisikan seni tradisi batik ke dalam bentuk batik kontemporer berbasis dedaunan alami. Langkah nyata ini membuktikan keberhasilan WIKRAMA SMAN 1 Pakem dalam mencetak generasi muda yang tidak hanya memahami nilai kebudayaan Keraton Yogyakarta, tetapi juga berperan aktif sebagai pelestari budaya dan ekologi secara konkret dan berkesinambungan.
WIKRAMA SMAN 1 Pakem membuktikan keberhasilannya mencetak generasi muda yang tidak hanya paham nilai kebudayaan Keraton Yogyakarta, tetapi juga berperan aktif sebagai pelestari budaya dan ekologi secara konkret dan berkesinambungan.
Aksara
AKSARA: Nalika Basa Jawa Urip ing Ruang Digital
Aksara dalam WIKRAMA merupakan ruang bagi peserta didik untuk menghidupkan Bahasa Jawa melalui karya. Peserta didik tidak hanya belajar menggunakan Bahasa Jawa secara tepat, tetapi juga diajak menjadikannya sebagai bahasa untuk bercerita, berekspresi, mengapresiasi, dan merekam kebudayaan di sekitarnya.
Salah satu implementasinya adalah pembuatan caption berbahasa Jawa berdasarkan foto budaya. Peserta didik mengamati berbagai bentuk kebudayaan, mengabadikannya melalui foto, kemudian menyusun narasi dalam Bahasa Jawa untuk memberikan konteks dan makna terhadap foto tersebut. Karya-karya tersebut selanjutnya dipublikasikan melalui Padlet, sebuah ruang digital yang memungkinkan tulisan, foto, dan informasi budaya tersusun dalam satu wadah yang interaktif.
Di sinilah teknologi menjadi bagian penting dalam WIKRAMA. Teknologi bukan pengganti budaya, melainkan jembatan yang menghubungkan budaya dengan generasi masa kini. Melalui Padlet, karya berbahasa Jawa tidak hanya tersimpan sebagai tugas sekolah, tetapi dapat menjadi dokumentasi digital yang menunjukkan bagaimana peserta didik memandang dan memaknai kebudayaan mereka.
Kegiatan ini sekaligus merepresentasikan semangat Pendidikan Khas Kejogjaan, terutama dalam mempertahankan nilai dan identitas budaya, sembari terbuka terhadap perkembangan zaman. Budaya yang diwariskan dari masa lalu dipelajari oleh generasi masa kini, dikemas menggunakan teknologi, dan diharapkan dapat terus hidup pada masa depan.
Dari foto menjadi cerita.
Dari cerita menjadi aksara.
Dari aksara menjadi jejak budaya di ruang digital.
PILAR AKSARA: Menguatkan Literasi Melalui Esai Berbahasa Jawa di SMAN 1 Pakem
Pada inovasi WIKRAMA di SMAN 1 Pakem, pilar Aksara hadir sebagai wadah internalisasi bagi murid untuk mengekspresikan pemikiran kritis, kepekaan rasa, serta gagasan akademis melalui karya tulis esai. SMAN 1 Pakem memiliki program literasi disemua angkatan. Pada hari biasa literasi kelas X dan XI berkaitan dengan artikel bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sedangkan di kelas XII berkaitan dengan materi TKA. Dihari tertentu, seperti Kamis Pon, murid diminta untuk melakukan literasi dari berbagai sumber yang berbahasa Jawa. Proyek akhir bagi murid dalam literasi ini berupa penulisan esai. Oleh karena itu, penulisan esai di SMAN 1 Pakem tidak hanya terbatas menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, melainkan murid diberikan ruang seluas-luasnya untuk menyusun esai dalam bahasa Jawa sebagai upaya nyata dalam memperkuat literasi daerah dan merawat keberlanjutan kearifan lokal. Walaupun esai dengan berbahasa Jawa juga menjadi tugas dalam mata pelajaran bahasa Jawa.
Wujud nyata dari implementasi pilar Aksara, salah satunya tertuang dalam esai karya Intan Puspita Sari kelas XIID yang berjudul “Ngruwat Jiwa Nusantara: Eksistensi, Tantangan, lan Strategi Pelestarian Budaya Basa Jawi ing Era Modern”. Melalui esai tersebut, dipaparkan bahwa arus globalisasi dan penetrasi digital sering kali dipersepsikan sebagai ancaman yang mengikis kebudayaan serta penggunaan bahasa dan Aksara Jawa di kalangan generasi muda. Namun, esai ini menyampaikan gagasan utama bahwa kemajuan teknologi tidak sepatutnya dianggap sebagai faktor yang melunturkan nilai-nilai budaya, melainkan harus difungsikan sebagai sarana rekreasi (pembentukan kembali secara kreatif) dan media rekreasi yang adaptif.
Dengan mengintegrasikan teknologi digital seperti pemanfaatan media pembelajaran interaktif berbasis aplikasi visual hingga penggunaan keyboard Aksara Jawa pada perangkat smartphone—teknologi justru menjadi sarana strategis untuk mempermudah proses penyampaian dan pemahaman budaya lokal. Penerapan teknologi ini membuktikan bahwa Bahasa dan Aksara Jawa mampu bertransformasi menjadi sarana yang dinamis, relevan, serta efektif dalam melestarikan warisan budaya Nusantara di era modern.
Klik gambar di bawah untuk melihat minat Anda dalam berkarya dan berbudaya!
SMAN 1 Pakem dengan bangga mempersembahkan salah satu karya literasi unggulan murid dalam naungan program inovasi WIKRAMA, yaitu sebuah karya kolaboratif bertajuk “Babad Ngayogyakarta”. Karya literasi dalam bentuk publikasi digital dan cetak ini dirancang secara apik dan tekun oleh tim murid kelas XII: Alisha Maura Saqeena (XII D), Arina Putri Zahra (XII A), Arya Surya Prayoga (XII C), Safania (XII E), dan Shinby Nizar Al Nira (XII E). Komik ini menyajikan rekam jejak sejarah, nilai filosofis, serta dinamika kebudayaan Yogyakarta yang disajikan lengkap dengan penulisan Aksara Jawa.
- Muatan Isi dan Nilai Filosofis
Komik Babad Ngayogyakarta ini mengupas secara mendalam rekam jejak sejarah peradaban Yogyakarta, konsep Sumbu Imajiner, hingga dinamika kebudayaan Kejogjaan. Penyajian cerita dilengkapi dengan penggunaan bahasa Jawa yang santun (unggah-ungguh basa) serta transliterasi Aksara Jawa yang presisi, sehingga menjadi media edukasi yang sangat relevan bagi generasi muda.
- Relevansi Pilar Inovasi WIKRAMA
Karya ini merupakan wujud nyata integrasi dari dua pilar utama WIKRAMA:
- Pilar Aksara: Menguatkan literasi bahasa, sastra Jawa, dan penulisan Aksara Jawa secara kontekstual guna merawat bahasa ibu dan kearifan lokal.
- Pilar Makarya: Menjadi ruang ekspresi seni, kreativitas tata letak digital (digital publishing), serta dokumentasi karya portofolio murid secara terstruktur di platform digital.
- Dampak Pembentukan Karakter
Melalui proses riset, penulisan, dan penyusunan karya ini, murid tidak hanya mengasah kecakapan berbahasa dan kreativitas digital, tetapi juga menginternalisasi nilai adiluhung Hamemayu Hayuning Bawana membangun kesadaran diri untuk menjaga keharmonisan budaya, sesama, dan lingkungan di era modern.





