Kegiatan

Makanan Tradisional

Ketika Cita Rasa Menyatukan Cerita

Salah satu momen berkesan dalam perayaan HUT SMAN 1 Pakem hadir melalui sebuah tradisi sederhana, yaitu berbagi makanan tradisional dari berbagai daerah. Guru dan karyawan membawa makanan khas yang dekat dengan daerah, keluarga, maupun kenangan mereka. Beragam hidangan tersebut kemudian dikumpulkan dan disajikan bersama dalam beberapa tampah, menciptakan sajian yang kaya rasa sekaligus kaya cerita.

Dari adrem, nagasari, srabi, apem, mendut, lemper, carang gesing, jadah srundeng, gethuk goreng, cucur, wingko, cothot, onde-onde, klepon, yangko, dadar gulung, timus, hingga gatot, tiwul, dan berbagai jajanan tradisional lainnya, setiap tampah menghadirkan keberagaman kuliner Nusantara dalam satu ruang kebersamaan.

Guru dan karyawan kemudian dipersilakan mengambil makanan sesuai selera. Suasana pun menjadi semakin hangat ketika mereka saling berbagi cerita tentang rasa, asal-usul, kebiasaan, hingga kenangan masa lalu yang melekat pada makanan tertentu. Makanan yang mungkin sederhana bagi sebagian orang ternyata dapat menjadi pintu menuju cerita yang begitu personal dan bermakna.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat sekolah berbasis budaya dalam menyadarkan bahwa mengenal dan melestarikan budaya tidak harus melalui kegiatan formal. Budaya juga hidup melalui makanan, kebiasaan berbagi, percakapan, dan ingatan yang diwariskan antargenerasi.

Melalui WIKRAMA, momen ini merepresentasikan RASA dalam makna yang lebih luas, bukan hanya cita rasa makanan, tetapi rasa memiliki, rasa menghargai keberagaman, dan rasa kebersamaan yang tumbuh di lingkungan SMAN 1 Pakem.

Satu tampah, beragam rasa.
Satu kebersamaan, berjuta cerita.

Palette War

PALETTE WAR: Merayakan Budaya Jogja melalui Sapuan Warna

Palette War merupakan salah satu rangkaian lomba dalam peringatan HUT SMAN 1 Pakem yang menghadirkan semangat kompetisi, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya Yogyakarta melalui seni lukis. Dalam kegiatan ini, setiap rombel mengirimkan satu murid untuk berkompetisi di Aula sekolah, dan diberi waktu selama 90 menit untuk menyelesaikan lukisannya.

Dengan mengusung tema budaya, para murid bebas menerjemahkan kekayaan budaya Jawa ke dalam bahasa visual mereka. Prajurit Keraton, penari tradisional, Tugu Jogja, hingga berbagai ikon dan simbol budaya Yogyakarta hadir melalui goresan, bentuk, dan perpaduan warna yang beragam. Setiap lukisan menjadi representasi dari cara murid memandang, menghayati, dan mengekspresikan budaya di sekitarnya.

Lebih dari sekadar lomba melukis, Palette War menjadi ruang bagi murid untuk menghidupkan budaya melalui kreativitas. Tradisi tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi diolah menjadi karya yang relevan dengan cara pandang generasi masa kini.

Melalui Makarya, WIKRAMA menghadirkan pesan bahwa melestarikan budaya dapat dilakukan dengan menciptakan karya. Makarya memberikan kesempatan murid untuk mengubah apa yang dikenal, dilihat, dan dirasakan tentang Yogyakarta menjadi sesuatu yang dapat dinikmati, diapresiasi, dan diwariskan kembali.

Dari budaya yang diwariskan, lahir karya yang diciptakan.

Dari sapuan warna, tumbuh cara baru untuk mencintai budaya.

Pramuka Blok

Kegiatan Pramuka Blok SMAN 1 Pakem dilakukan selama 2 hari pada tanggal 16 dan 17 Juli 2026. Kegiatan ini hadir dengan pengalaman belajar yang dekat dengan budaya dan kehidupan sehari-hari. Kegiatan hari kedua adalah kegiatan memasak, murid diajak mengenal, mengolah, dan melestarikan makanan tradisional nusantara secara langsung. Berbagai makanan tradisional dibuat bersama, seperti nagasari, klepon, pisang ijo, putri mandi, selendang mayang, putu mayang, makanan tradisional lainnya. Tidak sekadar memasak, kegiatan ini menjadi ruang bagi murid untuk belajar gotong royong, mandiri, kreatif, bertanggung jawab, serta menghargai warisan kuliner lokal. Kegiatan ini menjadi bagian dari WIKRAMA dalam menghadirkan pengalaman budaya yang nyata dari mengenal tradisi, mempraktikkannya bersama, hingga menjaga agar budaya tetap hidup di tengah generasi muda.