Rasa

Ngajeni

Ngajeni, Menghidupkan Budaya dalam Keseharian

Di SMAN 1 Pakem, ngajeni bukan sekadar materi yang dipelajari dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Ia merupakan nilai yang dihidupkan dalam keseharian melalui cara bertutur, bersikap, memperlakukan orang lain, hingga bagaimana seseorang menempatkan dirinya di tengah lingkungan. Karena itu, murid dibiasakan untuk ngajeni siapapun, dimanapun, dan kapanpun, baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.

Budaya tersebut hadir dalam kebiasaan-kebiasaan sederhana. Murid membiasakan diri menyapa dan bertegur sapa ketika bertemu guru atau karyawan maupun sesame teman, menundukkan badan saat melewati orang yang lebih tua, menggunakan ibu jari ketika menunjuk, bersikap sumeh, serta bertutur dengan lembut dan sopan. Hal-hal kecil ini menjadi bagian dari karakter yang terus dibangun, sehingga unggah-ungguh tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan.

Pembentukan budaya ngajeni juga tidak hanya menjadi tanggung jawab murid. Guru dan karyawan hadir sebagai teladan melalui sikap dan interaksi yang mereka tunjukkan setiap hari. Salah satunya diwujudkan melalui jadwal piket pagi, dimana guru dan karyawan berdiri di dekat gerbang dan di dalam lobby untuk menyambut serta menyapa murid yang datang ke sekolah. Sapaan sederhana tersebut menciptakan ruang perjumpaan yang hangat sekaligus menunjukkan bahwa budaya saling menghargai dimulai dari keteladanan.

Melalui nilai RASA dalam WIKRAMA, ngajeni menjadi bagian dari upaya SMAN 1 Pakem membentuk generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki unggah-ungguh, kesantunan, empati, dan karakter budaya. Sebab, budaya tidak hanya perlu diketahui saja, namun harus dirasakan, dilakukan, dan menjadi bagian dari diri.

Ngajeni ora mung diwulang.
Ngajeni ditindakake saben dina, marang sapa wae, ing ngendi wae.

=

Flora Langka

Pilar Rasa: Internalisasi Kepedulian Lingkungan Berbasis Flora Langka Yogyakarta

Pada inovasi WIKRAMA SMAN 1 Pakem, pilar Rasa diawali dari proses penanaman kepekaan batin dan kepedulian lingkungan murid yang dihubungkan langsung dengan nilai sejarah Keraton Yogyakarta dan keberadaan ekologi di sekolah.

Tahap Rasa dimulai saat murid diperkenalkan secara langsung pada kenyataan bahwa SMAN 1 Pakem menyediakan dan melestarikan area konservasi flora langka khas Yogyakarta di lingkungan sekolah. Murid tidak hanya diberikan sebuah materi di dalam kelas, melainkan diajak mengobservasi secara langsung taman dan ruang hijau sekolah. Momen ini dapat membangun kesadaran (awareness), bahwa SMAN 1 Pakem bukan sekadar ruang belajar formal, melainkan laboratorium ekologi aktif yang membudidayakan vegetasi bernilai historis Keraton Yogyakarta. Murid melakukan observasi langsung ini menanamkan rasa memiliki (handarbeni). Murid menyadari bahwa tanaman yang dilihar setiap hari adalah flora langka yang bernilai historis filosofis tinggi.

 Area konservasi SMAN 1 Pakem membudidayakan Sawo Kecik (Sarwa Becik), Namnam/Cukimai (Kerendahan Hati), Anggrek Merapi/Vanda Tricolor (Resilience & Integritas), Duwet (Keteguhan Watak), dan Palem (Pengayom). Murid diajak mengobservasi secara langsung untuk membangun kesadaran handarbeni.

Ayo cek pemahamanmu mengenai karakter melalui flora langka khas Yogyakarta, klik pada gambar di bawah ini.

=

Mengakar Budaya, Menuju Prestasi: Studi Lingkungan Murid Kelas X SMAN 1 Pakem di Kraton Yogyakarta

 

Pada tanggal 23 Juli 2026, murid-murid kelas X SMAN 1 Pakem melaksanakan kegiatan studi lingkungan (study tour) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan mendatangi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebagai pusat peradaban dan muara nilai-nilai kebudayaan Jawa, Kraton Yogyakarta menjadi ruang belajar terbuka bagi para siswa untuk mengenali, mengamati, dan menghayati kearifan lokal langsung dari sumber utamanya.

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai fondasi awal dalam menanamkan nilai-nilai budaya utama yang menjadi identitas SMAN 1 Pakem. Penanaman karakter berbasis budaya ini juga dirancang untuk mendukung penguatan program WIKRAMA SMAPA (Wadah Internalisasi Kesadaran Rasa, Aksara, dan Makarya Artistik Kejogjaan sebagai Penguatan Pemahaman Budaya Berbasis Integrasi Karya Murid SMAN 1 Pakem).

melalui studi lingkungan ini, para peserta didik diarahkan untuk tidak hanya memahami sejarah secara tekstual, tetapi juga:

  • Mengeksplorasi Kesadaran Rasa: Menumbuhkan kepekaan budi, etika, dan tata krama khas Kejogjaan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Memahami Nilai Aksara & Tradisi: Mempelajari literasi budaya dan filosofi Jawa yang melandasi tata bangunan hingga tata hidup masyarakat Yogyakarta.
  • Mewujudkan Makarya Artistik: Mengintegrasikan hasil pengamatan di Kraton menjadi karya-karya kreatif murid yang berakar pada budaya lokal.

Langkah awal di tahun ajaran 2026/2027 ini menjadi komitmen SMAN 1 Pakem dalam mencetak generasi muda yang cerdas secara akademis sekaligus kokoh menggenggam identitas kebudayaannya.

Tarian MGM

Menyemai Karakter dan Cipta Karya: Ketika Budaya Berpadu dengan Pelestarian Lingkungan

SMAN 1 Pakem terus berkomitmen menumbuhkan rasa cinta budaya sekaligus membentuk karakter para murid melalui aksi nyata. Budaya tidak sekadar dipelajari sebagai teori, tetapi dihayati dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Langkah ini diawali dari kegiatan studi lingkungan di Kraton Yogyakarta sebagai pusat nilai dan akar budaya Jogja. Dari sana, murid-murid menyerap nilai-nilai luhur yang kemudian ditransformasikan ke dalam karya seni tari yang sarat makna.

 

Harmoni Tradisi dan Isu Lingkungan

Puncaknya, pada upacara peringatan 17 Agustus 2026 di Museum Gunung Merapi, para murid membawakan tarian spesial yang mengusung pesan lingkungan: Reduce, Reuse, dan Recycle (3R). Melalui gerak tari yang anggun dan berenergi, mereka menyampaikan ajakan untuk menjaga bumi dan mengelola sampah secara bijak.

Penampilan ini menjadi bukti nyata bahwa seni budaya dapat berjalan selaras dengan kepedulian lingkungan, sejalan dengan semangat program WIKRAMA di SMAN 1 Pakem. Lewat perpaduan tradisi dan edukasi ekologi ini, SMAN 1 Pakem tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga mencetak generasi muda yang berkarakter, kreatif, dan peduli pada masa depan bumi.

Ramayana

Menabuh Harmoni, Merawat Budaya: Mengenal Lebih Dekat Ekstrakurikuler Karawitan SMAN 1 Pakem

Di balik dinamika akademis SMAN 1 Pakem, terlantun alunan nada gamelan yang tenang dan penuh makna. Melalui Ekstrakurikuler Karawitan, SMAN 1 Pakem menghadirkan ruang bagi siswa untuk menyapa kembali akar budayanya.

Prinsip utama Karawitan SMAPA bukanlah sebatas mencetak penabuh gamelan yang mahir secara teknis, melainkan menumbuhkan rasa bangga dan cinta mendalam terhadap seni tradisional Jawa. Pemahaman inilah yang menggerakkan para anggota Karawitan SMAPA untuk terus tampil dan mengaktualisasikan diri dalam berbagai perhelatan, mulai dari momen sakral Pelepasan Siswa hingga beragam panggung pertunjukan masyarakat.

Puncak aktualisasi tersebut tercermin dalam gelaran Pentas Mini Ramayana pada tanggal 29 Agustus 2026 di Desa Wisata Bulak Sawah, Sawahan Lor, Wedomartani. Dalam pentas malam hari yang syahdu tersebut, murid-murid SMAN 1 Pakem memegang peran sentral sebagai penyiap iringan musik dan penembang sinden. Mereka berkolaborasi langsung dengan para penari profesional Ramayana Prambanan serta anak-anak Dusun Sawahan.

Petikan nada dan tembang yang dibawakan para siswa malam itu menjadi bukti bahwa kebudayaan tidak pernah usang di tangan generasi muda yang tepat. Di sinilah rasa memiliki memegang peran penting dalam nilai WIKRAMA. Menjadi dorongan nyata bagi murid untuk berani mengambil bagian, berkarya, dan menjaga warisan luhur bangsa. Melalui kolaborasi ini, SMAN 1 Pakem terus menegaskan komitmennya untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter dan berakar kuat pada nilai-nilai luhur budaya.